And finally, i still need you..
Mungkin,
ada dari beberapa kita yang pernah membatasi diri dari rasa pengertian dan
sabar. karena keduanya sangat mempengaruhi hubungan ketika keduanya sudah tidak
ada lagi dalam perasaan kita. semuanya akan mempersulit kita, untuk mengerti
dan menyabarkan diri dengan dia, dengan kesibukkannya dia.
A:
Kamu keterlaluan, serendah ini rinduku di hadapanmu, aku kira kamu bisa anggap
kehadiranku. ternyata kamu tetap tak peduli.
B:
Aku bukan keterlaluan, kamu bisa kan membedakan dimana aku ada untukmu dan
dimana aku dan kesibukan kerjaku.
A:
Aku tau kamu sibuk, tapi dari beberapa jam waktumu itu tak ada kah, waktu yang
kamu sisihkan hanya untuk mempedulikan aku di sini.
B:
Aku masih bisa merindukanmu, tapi aku alihkan dengan kesibukanku, semua memang
berbeda, jauh. dan kamu berlebihan dengann adanya rindumu.
A:
Loh, kok. malah kamu memojokkanku, bukan meminta maaf. lalu? aku yang bersalah,
dan tak mengertimu? bukannya terbalik.
B:
Kamu masih salah menilai, aku tetap mengertimu, dan aku tak pernah merasa aku
memojokkanmu. redamlah emosimu sesaat. Ada baiknya, kita bicarakan dengan
baik-baik. dan meredakan hati. jujur, kita berjauhan dan aku tak ingin lama
mendiamkanmu setelah perdebatan ini. Karena, jika nanti aku lama
mendiamkanmu, sama saja aku memberi kesempatan kepadamu agar bisa menerima hati
yang baru.
A:
Jika kamu takut aku menerima hati yang baru. seharusnya, kamu sadar. kamu ke
mana saja selama ini? saat aku kangen, lalu terabaikan. Aku masih sering
kamu abaikan saat aku merindukanmu, lalu bagaimana caranya agar rasa yakin itu
tetap ada. Kamu bisa kan ajari aku sibuk sepertimu, menahan rindu lalu
mengabaikannya.
B:
Bukankah jarak yang mengajarimu bagaimana rindu dan pertemuan itu sangat
berarti dan berharga. Kamu lupa?
A:
Pada intinya, aku memang butuh kamu dari satu sudut, aku butuh perhatianmu yang
mempengaruhi keyakinan cinta terhadapmu, aku ingat semuanya memang jarak
mengajari semuanya, tapi tetap aku butuh perhatianmu, perhatian yang semestinya
aku dapatkan darimu dan sekarang teralihkan dari beberapa kesibukkanmu.
B: …
A: …
A: Aku pernah kau kecewakan. aku lupakan, namun,
seakan terus mengingatnya, kamu mengajariku agar aku tak berharap lebih setelah
kekecewaan itu pernah hadir di hatiku. Mungkin kamu lupa, kalau kamu pernah
kecewakan aku, mungkin kamu lupa kalau janji itu pernah terucap dari bibirmu
untuk tak mengecewakanku lagi.
B: Aku memang pernah mengecewakanmu, aku pernah
berjanji agar tak mengecewakanmu lagi, kamu tahu labil? coba kamu berkaca,
sadarlah.
A: …
B:
Jangan semata-mata aku pernah mengecewakanmu, lalu kamu gunakan itu sebagai
senjata andalan untuk memojokkanku.
B:
Aku ada di sini, aku luangkan waktuku saat ini hanya untuk menerima amarahmu,
dimana letak kedewasaanmu sayang menghilang begitu saja. Saat aku
meluangkan waktuku untukmu, aku berharap aku akan baik-baik saja denganmu.
nyatanya, kau tetap memarahiku, menyesakkan.
A:
Iya, aku gunakan rasa kecewaku sebagai senjata untuk memojokkanmu, aku rindu
kamu lalu terbawa dengan emosiku. Ngerti-lah.
B:
Tapi, cara kau merindukanku tak seperti ini, mendebatkan hal yang itu-itu saja,
aku tahu kamu rindu, hingga kau membatasi rasa sabarmu. Jangan membatasi rasa
sabarmu dengan keegoisanmu yang tak penting, seakan-akan kau tak ingin kita
baik-baik saja?
A: Bukan aku ingin mendebatkan itu-itu
saja, rindu memperburuk semuanya, rindu yang tersapu angin dalam dirimu, aku
memang tak pernah lupa, kalau jarak yang mengajariku betapa berartinya rindu
dan berharganya pertemuan denganmu, tapi
aku tetap butuh kamu, per-ha-ti-an ka-mu. Ngerti!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar